Selasa, 14 Oktober 2014

Generasi Digital, Jangan Hanya Mengandalkan Internet


Sebelum Anda membaca isi tulisan ini, sejenak  saya ingin mengajak Anda bermain tebak-tebakan berhadiah. Siapa yang mau? Ayoo acungkan tangan lalu duduk manis baca tulisan ini yah.. Okey..! Yang tidak mau, silahkan alihkan pandangan Anda dari layar monitor gadget Anda, dan biarkan orang di samping Anda membaca tulisan ini. Hehehe….

Kita mulai yah… Pertanyaannya: siapakah aku? Bentukku berupa perangkat lunak computer. Aku diprogram sebagai search engine. Apa yang orang cari bisa kutemukan.

Mencari referensi ilmiah? Ada... 
Lowongan kerja? Banyak..
Referensi fashion dan trend? Apalagi. 
Tutorial-tutorial mulai dari yang gampang sampai yang ribet? Tinggal pilih. 
Mau tahu informasi terupdate bahkan yang lawas sekalipun? Ada…
Informasi yang penting sampai yang absurd dan nggak penting bangeet…..? Silahkan tanyakan padaku. 
Tanpaku, orang biasanya galau dan merasa dirinya bagai “butiran debu” yang tak tahu harus mencari ke mana. Karena ia tahu tak akan bisa mendapat jawaban (atas pencariannya) pada rumput yang bergoyang.

Sudah ada yang bisa jawab? Yah, Anda yang sedang senyum-senyum sendiri di sana.. Apa jawaban Anda? 

"G-O-O-G-L-E.."
 "Yap, betul….Selamat…..!"
Silahkan kunjungi situs resmi google.com pilih image lalu ketik salah satu pilihan hadiah* berikut:

    # kipas angin turbo portable plus charger;

    # televisi layar sentuh anti gores;
   # atau kulkas internet dua pintu hemat energi.
*Pengambilan hadiahnya dapat dilakukan melalui print kesayangan Anda yah.. Hehe…^^

Baik, kita mulai serius ke topik pembahasan. Bicara soal google, (mungkin) tidak ada manusia sekarang yang tidak mengenalnya. Anak umur 6 tahun pun tahu, dan bisa “berselancar” dengan mulus di dalamnya tanpa takut tenggelam (ya iyalah, bukan laut!). Dengan hanya bermodal PC (personal computer), tablet, atau bisa juga menggunakan smartphone, maka dalam waktu kurang 5 menit Anda sudah dapat mencari informasi yang Anda butuhkan di google. Hebat bukan? Saking hebatnya mesin ini, sampai-sampai orang memberinya gelar sebagai bentuk “penghargaan” atas jasanya. Gelar itu dulunya hanya diberikan kepada orang yang “dituakan” karena memiliki kesaktian. Namun sekarang, gelar itu dengan mudah melekat padanya. Orang kini menyebutnya dengan sebutan mbah google (kok lebih mirip dukun yah?).

Saya jadi ingat pengalaman di kampus, saya pernah bertanya pada seorang teman.

“Klinik gurah yang bagus di Makassar, di mana?” tanyaku.“Coba tanya mbah google, mungkin dia tahu”. Jawab temanku spontan dengan wajah innocent.
Mendengar jawabannya itu dahi dan kening saya sempat berkerut, teman saya tadi tersenyum lalu melontarkan kembali jawaban yang sama namun dengan redaksi kalimat yang berbeda.
“Coba searching di google, siapa tahu informasinya ada di sana”. Katanya lagi.
Wooow, untuk mencari alamat suatu tempat pun kita bisa temukan di google dengan aplikasi google maps. Amazing! Hmm, andai…..saja pelantun lagu “alamat palsu” singgah dulu ke warnet sebelum mencari alamat yang dia cari, mungkin bisa langsung ketemu tuh tanpa harus ke sana ke mari. Jadi, tidak bakalan menambah panjang deretan koleksi lagu galau di Indonesia…! (Ayo Indonesia bangkit! Ups...)

Back to topic. Selain alamat, kita bisa menemukan banyak hal di mesin pencari ini. Sebagaimana yang saya utarakan tadi di paragraf ke dua tulisan ini. Entah itu untuk “konsumsi” pribadi atau orang banyak. Seperti halnya yang rutin dilakukan oleh salah satu penyiar Radio Islam di kampung saya tiap pagi. Saat akan menutup siaran on airnya, dia terlebih dahulu mengumumkan informasi prakiraan cuaca yang terjadi di Kabupaten Wajo. Namun, (mungkin) karena signal wifi di tempat dia siaran agak sedikit terganggu oleh hujan yang belum reda pada saat itu, sehingga dia tidak berhasil googling untuk mendapatkan informasi tersebut. Alhasil di akhir siarannya, penyiar tadi meminta maaf atas “kekurangan” tersebut kepada seluruh pendengarnya, termasuk saya yang kebetulan mendengarnya siaran. Heheh… (baik saya maafkan…)


Tak berapa lama setelah penyiar tadi off air, saya mendengarkan break iklan layanan masyarakat di radio tersebut. Pada iklan, dijelaskan bahwa untuk menghadapi perubahan musim yang tidak tentu seperti saat ini, masyarakat butuh persiapan adaptasi terhadap musim. Di mana salah satu bentuk adaptasinya adalah mengetahui prakiraan cuaca. Dengan begitu masyarakat akan mudah mengatur aktifitas ataupun pekerjaan mereka. Adapun cara agar masyarakat mendapatkan informasi prakiraan cuaca, BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika) berkoordinasi dengan pemerintah dan media penyiaran. Sehingga informasi dapat tersebar ke seluruh lapisan masyarakat. Begitu kata iklannya. Namun fakta kemarin ternyata berkata lain. Salah siapa? Itu bukan pembahasan penting menurutku.


Menghubungkan antara “kesaktian mbah google“ dengan insiden tersebut, saya sedikit bisa mengambil pelajaran dari sana. Bahwa kita tidak bisa sepenuhnya hanya bermodal googling untuk mengetahui sesuatu. Kita masih butuh “media” lain yang lebih nyata keberadaannya sebagai tempat kita menggali informasi. Kita masih butuh orang lain sebagai tempat menimba dan berbagi informasi, ilmu, pengalaman, bahkan nasehat. Kita masih butuh kitab dan juga buku bacaan yang dapat kita buka satu persatu lembarannya dan menemukan pencerahan di sana. 




Selama ini kita terlalu asyik menggunakan fasilitas teknologi canggih nan instant itu sampai-sampai kita setengah sadar bahkan hampir dibuat tidak sadar (mungkin) bahwa google itu adalah buatan manusia, hasil transformasi ide brilian manusia ke dalam bentuk produk digital yang bisa saja ditemukan keterbatasan pada saat penggunaannya. 


Kita (mungkin) terlalu menikmati ke-instan-an dan kemudahan yang ditawarkan produk-produk digital saat ini sehingga enggan meninggalkan zona nyaman itu untuk “hijrah” ke zona lain yang mengajak kita sedikit bersusah payah meluangkan waktu juga tenaga demi mengunjungi tempat-tempat nyata (seperti perpustakaan, masjid, toko buku, museum, dll). Di mana kita bisa bertukar “sesuatu” dengan orang lain dan menemukan sesuatu yang baru di sana. Jadi, mari ubah cara pandang kita dan mulai menyadarkan diri kita masing-masing. Bahwa kita hidup di atas bumi yang luasnya tidak hanya selebar layar monitor gadget yang kita punya.


Memang sih… saat ini kita tengah berada di era digital, sehingga hampir seluruh aktivitas kita berhubungan dengan yang namanya produk digital. Namun tidakkah kita sadar akan potensi dan nikmat yang telah Allah beri pada diri dan sekitar kita? Meskipun kita adalah generasi digital, jangan hanya mau mengandalkan internet untuk segala urusan hidup kita. Masih banyak hal-hal berguna dan menarik di dunia nyata. Berseliweran sana sini di luar sana. Dan hal itu bisa kita dapatkan GRATIS dan mudah, semudah kita menjelajahi dunia maya. Kita hanya perlu meng-ON-kan kembali seluruh panca indera yang kita miliki dan mengolahnya dengan akal dan hati-[hati].



~[ Selamat mencoba menemukan harta karun yang terpendam itu ]~


6 komentar:

  1. Bagus Dani ... blognya cantik. Ulasannya juga menarik. Selamat ya atas launching blognya, semoga makin semangat menulis. Nanti dihubungi Aisyah untuk dimasukkan dalam aftar blog anggota ID dan sering2 upload di grup ya :)


    Oya tentang BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika) berkoordinasi dengan pemerintah dan media penyiaran. .. saya juga pernah dengar, dalam sebuah seminar tentang Adaptasi Perubahan Iklim. Mungkin radionya perlu aktif dengan meminta ke BMKG supaya dikirimi prakiraan cuaca. Tapi bisa jadi bentuknya melalui pesan yang dikirimkan via internet ya sementara internet di Sengkang susah dapat sinyal yang bagus terus :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih kak... Alhamdulillah...
      Masih butuh banyak perbaikan kak. Perlu belajar sama kakak2 IIDN.

      Iya kak semestinya seperti itu... Hehe...bisa jadi begitu kak, signal di kampung agak parah

      Hapus
  2. Ada juga yang menyebutnya "Om Google" hehehee...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe...sampe2 ada yang menjodohkan dengan tante Wikipedia :)

      Hapus
  3. Hu'um fiuh internet itu candu... harus pake tameng yang bagus untuk negatifnya dan sebaliknya mesti pake spons yang lembut untuk menyerapnya fufufu

    Mantap blognya dan, gambatte ne

    BalasHapus
  4. selamat atas blognya. maaf sebelumnya mampir juga ya di blogku. blusenja.blogspo.com.

    BalasHapus